Lotim Kirim Jagung Aflatoksin dan Corn Cobs

  • Jumat, 29 Maret 2019 - 07:42:57 WIB
  • humas
Lotim Kirim Jagung Aflatoksin dan Corn Cobs

Jagung merupakan komuditas strategis utama terpenting setelah padi dan salah satu komuditas tanaman palawija utama di Indonesia. Demikian disampaikan Wakil Bupati Lombok Timur H.Rumaksi Sj, SH pada saat menghadiri temu usaha dan Launching Pengiriman Perdana Jagung Rendah Aflatoksin (Subtitusi Impor) dari koperasi Dinamika Nusra Agrobisnis ke PT. Greenfields dan Ekspor Corn Cobs (Janggel Jagung) ke Korea Selatan. Acara berlangsung Kamis, ( 28/03 ) di halaman Kantor PT. Greenfields Pringgabaya.

Pada acara yang dihadiri  Direktur PT. Greenfields, Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Mataram,  Ketua Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia, tersebut Wabup juga meminta para petani bergabung menjadi anggota HKTI. Wabup yang juga ketua HKTI NTB ini menyatakan Ke depan, kenaggotaan tersebut akan memudahkan akses ke dunia perbankan.


Rumaksi juga memaparkan berdasarkan data kementerian pertanian, dari total penggunaan jagung 15,55 juta ton, sekitar 66,1 persen atau 10,3 juta ton untuk industri pakan dan peternak mandiri. Saat ini, pabrik pakan menetapkan standar mutu jagung yang dapat diterima dengan mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI). Karena itu peluncuran pengiriman perdana jagung rendah aflatoksin, dari Koperasi Produksi Syariah Dinamika Nusa Agribisnis (DNA) ke PT. Greenfields dan ekspor Corn Cobs (Janggel Jagung) Korea Selatan ini,diharapkan diikuti pengiriman berikutnya dengan kapasitas yang lebih besar. Tentu saja kualitas yang terus mengalami peningkatan. Hal ini untuk menjaga kepercayaan dunia industri terhadap jagung asal Lombok Timur.


Produksi jagung nasional dalam lima tahun terakhir, meningkat 12,49 persen per tahun. Pada periode 2018 produksi jagung mencapai 30 juta pipilan kering (PK). Sementara itu untuk luas panen per tahun naik 11,06 persen dan produktivitas rata-rata meningkat 1,42 persen.
Di Lotim, berdasarkan data capaian RPJMD 2013-2018, produksi jagung tahun 2017 mencapai 185.432 ton. Pringgabaya menjadi kecamatan dengan luas lahan jagung terbesar. Angka tersebut terus meningkat dibanding tahun sebelumnya, seiring adanya upaya khusus terkait peningkatan produksi padi, jagung, dan kedalai (upsus pajale) yang telah berlangsung sejak 2016 lalu.


Meningkatnya produksi Pajale saat ini, sudah dapat dinikmati petani dengan meningkatnya kesejahteraan petani. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Desember 2018, naik sebesar 0,04 persen menjadi 103,16 persen dibanding bulan sebelumnya. Rumaksi berharap, apa yang dilakukan saat ini memotivasi petani untuk menanam jagung, mengoptimalkan potensi lahan yang ada.

 

Sementara itu, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Ir. Gatut Sumbogodjati, MM dalam sambutannya mengatakan, jagung memiliki kegunaannya relatif luas. Terutama, untuk konsumsi manusia dan kebutuhan bahan pakan ternak. Agrobisnis jagung memiliki berbagai keuntungan, yakni memberikan banyak manfaat, memiliki keunggulan sebagai pakan untuk unggas, dan usaha taninya mudah. Namun, jagung memiliki beberapa permasalahan seperti luas lahan yang terbatas, dan teknologi usaha tani rendah. Jagung memiliki peluang perdagangan antardaerah dan negara. Belum lagi kebutuhan jagung nasional cukup tinggi dan terus tumbuh.
Meningkatnya produksi jagung dalam negeri membuat petani jagung dalam negeri semakin bergairah dalam melakukan usaha budidaya pertanaman jagung di lapangan.


Memproduksi jagung rendah aflatoksin memerlukan penanganan khusus mulai dari budidaya, penanganan pasca panen sampai distribusi kepada peternak, di samping itu perlu insentif harga yang memadai. "Kemampuan Koperasi Dinamika Nusra Agrobisnis menyediakan jagung rendah aflatoksin yang dibutuhkan oleh industri seperti PT. Greenfields, patut didukung dan kita dorong, untuk dapat meningkatkan kapasitas produksinya." Ungkap  Gatut,"sehingga mampu mensuplai kebutuhan industri dalam negeri",

 

Selain menghasilkan jagung rendah aflatoksin, Koperasi Dinamika Nusra Agrobisnis juga telah mampu meningkatkan nilai tambah dengan inovasinya untuk menghasilkan Corn Cob (janggel).

Secara umum dapat di indikasikan bahwa, pengembangan Agrobisnis jagung masih mempunyai prospek. Ditinjau dari prospek harga, ekspor dan pengembangan produk. Secara internal, pengembangan Agrobisnis jagung didukung potensi kesesuaian dan ketersediaan lahan, produktivitas yang masih dapat meningkat dan semakin berkembangnya industri hilir. Dengan prospek dan potensi ini, arah pengembangan Agrobisnis jagung adalah pemberdayaan di hulu dan penguatan di hilir.

 

 

  • Jumat, 29 Maret 2019 - 07:42:57 WIB
  • humas

Berita Terkait Lainnya